Jangan Asal Telan

Dewasa ini, tingkat mobilitas manusia telah meningkat sangat tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu terjadi karena persaingan hidup tiap individu yang mereka alami. Mereka berlomba-lomba agar kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi. Semua waktu mereka korbankan, mulai dari pagi hingga larut malam. Meski padatnya persaingan, mereka tidak melupakan yang namanya makan. Tetapi  tiap individu lebih sering menghabiskan waktu makannya di luar ketimbang menyiapkannya di rumah, karena menurut mereka makan di luar lebih praktis dan bisa di makan kapan dan dimana saja. Makanan tersebut bisa merupakan makanan ringan maupun makanan berat. Namun karena perilaku tersebut, banyak orang yang merasakan berbagai macam efek, seperti berkurangnya minat untuk mengolah bahan mentah menjadi makanan siap saji, lalu keuangan yang telah kita kumpulkan lebih cepat habis, dan munculnya berbagai macam penyakit di dalamnya.


Sejak dahulu, orang-orang sebelum kita sangat lah pandai dalam mengolah bahan mentah menjadi makanan siap saji. Itu disebabkan karena mereka memiliki minat untuk mengasah kemampuannya dalam bidang masak-memasak, mulai dari memotong hingga menyajikannya ke atas piring, sehingga mereka mendapat kepuasan tersendiri karena memakan makanan dari apa yang mereka racik sendiri. Hal tersebut berbanding terbalik dengan zaman sekarang. Banyak masyarakat yang enggan untuk membuat makanannya sendiri. Menurut mereka, memasak makanannya sendiri merupakan hal yang hanya membuang-buang waktu. Hal itu terjadi dengan banyaknya kemudahan dalam mendapat makanan, seperti datang ke restoran cepat saji atau dengan memanfaatkan teknologi aplikasi ojek daring untuk memesan makanan yang mereka inginkan. Memang menjadi mudah, namun membuat masyarakat menjadi lebih malas untuk mencoba memasak makananannya sendiri.

Keuangan pun terkena imbasnya. Hal itu terjadi karena perilaku masyarakat yang memiliki sifat konsumtif yang berlebihan terhadap apa yang dibeli dan dimakan. Bisa dibayangkan bila kita memiliki uang sebesar Rp20.000,00 lalu tiap hari dihabiskan uang tersebut sampai lima minggu, kita telah menghamburkan uang sebesar Rp100.000,00. Padahal jika memang memiliki bahan-bahan makanannya dirumah, lebih baik membuatnya ketimbang mengeluarkan uang kembali. Selain itu jika kita kita memilih makan di luar, kita harus bersiap-siap menahan godaan lebih pada makanan yang disajikan di restoran atau rumah makan lainnya, karena setiap godaan yang ada membuat kita harus merogoh kocek lebih dalam keuangan kita dan mengakibatkan keuangan terus terkuras habis.

Kesehatan pun dapat menjadi taruhannya. Bila kita memang memiliki kegemaran dalam membeli makanan pada tempat yang tidak higienis, siap-siap anda dihinggapi berbagai macam penyakit yang terkandung didalam makanan tersebut. Dimulai dari diare, mual, muntah-muntah, demam, dan penyakit lainnya. Diare berada di urutan pertama karena Secara global, diare bertanggungjawab atas lebih dari 50 persen gangguan kesehatan yang disebabkan oleh makanan. Penyakit tersebut berasal dari berbagai macam bakteri, diantaranya terkontaminasi oleh norovirus, Campylobacter, Salmonella non-tipoid dan E. coli. Penyakit tersebut tentu membuat kita sulit melakukan aktivitas yang memang seharusnya kita lakukan.

Perilaku untuk makan di luar merupakan hal yang lumrah dilakukan di zaman sekarang ini, karena kita tidak perlu susah-susah untuk mengolah makanan kita sendiri. Namun kita juga harus ingat jika ada efek yang ditimbulkan dari perilaku tersebut, seperti kurang diminatinya mengolah makanannya sendiri, lalu uang yang kita kumpulkan menjadi cepat habis, dan yang lebih penting lagi banyak penyakit yang ditimbulkan apabila kita memakan makanan pada tempat yang tidak terjaga kebersihannya. Karena itu, sesibuk apapun tetap menyempatkan diri untuk memakan makanan dirumah, karena sensasi makan di rumah tak kalah dengan kita makan di restoran atau jajanan di pinggir jalan.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahaya Tidak Sarapan Pada Kesehatan

Kenal Sejak Awal